DPRD Berau Soroti Kesiapan RSUD Baru: Jangan Sekadar Seremonial, Pelayanan Harus Optimal
2 mins read

DPRD Berau Soroti Kesiapan RSUD Baru: Jangan Sekadar Seremonial, Pelayanan Harus Optimal

KARYA MEDIA, BERAU – Komisi I DPRD Berau menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama manajemen RSUD dr Abdul Rivai dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Senin (27/4/2026) pukul 13.00 Wita. Rapat ini mengupas kesiapan operasional rumah sakit baru yang dijadwalkan dibuka pada 20 Mei 2026.

Rapat dipimpin Wakil Ketua I DPRD Berau Subroto, didampingi Wakil Ketua II Sumadi dan Ketua Komisi I Elita Herlina. Dari pihak rumah sakit, Direktur Utama RSUD dr Abdul Rivai, Jusram, turut hadir memberikan penjelasan.

Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina menyampaikan, rencana pembukaan rumah sakit baru masih menyisakan sejumlah tanda tanya, khususnya terkait kesiapan alat kesehatan dan sumber daya manusia (SDM).

“Peralatan seperti apa, termasuk SDM yang akan ditempatkan, ini harus jelas,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar peresmian tidak hanya menjadi seremoni belaka. Terlebih, status RSUD dr Abdul Rivai yang sempat turun menjadi tipe D menjadi perhatian serius.

“Jangan hanya potong pita. Pastikan benar-benar meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Elita juga menyoroti polemik utang rumah sakit serta isu kekosongan obat yang sempat ramai diperbincangkan.

“Ini sudah viral. Apa sebenarnya penyebab utang menumpuk dan obat kosong?” katanya.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, mengakui masih ada kendala teknis, terutama terkait Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Namun, ia optimistis peresmian rumah sakit tetap sesuai jadwal.

“Menurut DLHK, tinggal persiapan di Kampung Pegat Bukur. Secara umum, dari pemaparan direktur, masalah sudah diatasi. Tinggal eksekusi,” jelasnya.

Direktur RSUD dr Abdul Rivai, Jusram, membantah adanya kekosongan obat secara total. Ia menegaskan pelayanan tetap berjalan normal, dengan 13 poli rawat jalan yang masih beroperasi.

“Kosong bukan berarti tidak ada. Kami hanya mengalami kekurangan, dan bisa diganti dengan obat lain yang setara,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, utang rumah sakit terjadi akibat keterlambatan pembayaran kepada vendor, yang dipicu dua hal: keterlambatan penagihan dari vendor serta proses pembayaran yang belum tuntas.

“Saat ini kami sedang berinvestasi, baik dari sisi SDM maupun fisik,” tambahnya.

Jusram mengungkapkan, RSUD telah mendatangkan sekitar 10 dokter spesialis baru, termasuk spesialis saraf dan jantung. Pembiayaan gaji dan insentif sebagian menggunakan dana BLUD.

Sementara itu, Konsultan Teknis RS Raja Alam, Sahril Andi Paringi, menyatakan optimisme bahwa seluruh persiapan akan rampung tepat waktu. Ia menyebut progres saat ini telah mencapai 91 persen, dengan dukungan sekitar 70 tenaga staf.

“Untuk alat kesehatan sudah sesuai koridor. Tinggal beberapa hal teknis, termasuk dokumen dan sarana prasarana,” jelasnya.

Namun, ia mengakui masih ada kendala, terutama terkait lingkungan, yakni pemindahan TPA Bujangga yang belum sepenuhnya tuntas.

“Sekitar 9 persen lagi yang belum lengkap, termasuk aspek teknis dan administrasi. Tapi waktu yang tersisa masih cukup,” katanya.

Sahril menambahkan, operasional rumah sakit nantinya akan dilakukan secara bertahap sambil melengkapi kekurangan yang ada.

“Pengoperasian akan berjalan paralel dengan penyempurnaan,” pungkasnya. (TIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *