Menjaga Negeri dari Api, YWA, AAPA, dan GAS Berjibaku Bantu Padamkan Api di Luar Konsesi
KARYAMEDIA, BERAU — PT Yudha Wahana Abadi (YWA), PT Anugerah Agung Prima Abadi, dan PT General Aura Semari-member of PT Triputra Agro Persada Tbk- menunjukkan bahwa kesiapan infrastruktur pemadaman kebakaran yang dibangun perusahaan tidak hanya melindungi area konsesi, tetapi juga menjadi andalan saat api muncul di lahan milik warga sekitar.
Sepanjang 2026, ketiga unit perusahaan tersebut telah 37 kali membantu pemadaman kebakaran di luar area konsesi. Kesiapsiagaan ini merupakan wujud nyata dari komitmen TAP untuk Negeri, khususnya pilar TAP untuk Negeri Lestari, dalam mendukung upaya pencegahan dan penanggulanan karhutla bersama masyarakat dan pemerintah daerah.
Komitmen tersebut ditopang oleh kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia di lapangan. Di wilayah operasional YWA, AAPA dan GAS terdapat 2 gudang pemadam kebakaran, 34 embung air sebagai sumber pasokan air saat pemadaman, 39 menara pantau untuk mendeteksi titik api sejak dini, serta 4 unit drone yang membantu memantau kondisi lapangan secara lebih luas dan cepat.
Kesiapan tersebut diperkuat dengan 3 Satgas Karhutla, 8 regu inti beranggotakan 120 orang, 30 regu pendukung dengan 360 anggota, 4 regu Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) beranggotakan 60 orang. Dengan dukungan tersebut, tim dapat bergerak lebih cepat ketika indikasi kebakaran terdeteksi.

Senior Estate Manager YWA, AAPA, dan GAS, Jabeglin Purba, menjelaskan bahwa kesiapan Karhutla perusahaan dibangun melalui tiga pendekatan yaitu preventif, promotif, dan kolaboratif.
“Pilar pencegahan Karhutla perusahaan kami turunkan dari komitmen untuk tidak hanya menjaga area kami, melainkan juga desa-desa sekitar bebas dari Karhutla. Karena itu, perusahaan juga secara aktif membantu memadamkan api di lahan-lahan. Dan di masa kemarau puncak seperti ini, kami juga rutin melakukan patroli gabungan dengan pemerintah setempat, aparat penegak hukum, dan masyarakat,” ujar Jabeglin, Rabu (2/9)
Menurut dia, langkah preventif dilakukan melalui penerapan SOP pengendalian karhutla, pemetaan wilayah rawan, serta patroli yang disesuaikan dengan Fire Danger Rating (FDR). Sementara pendekatan promotif dilakukan melalui sosialisasi kepada karyawan dan masyarakat, sedangkan pendekatan kolaboratif diwujudkan melalui kerja sama dengan pemerintah, aparat, dan kelompok masyarakat.
Kolaborasi tersebut diperkuat melalui patroli gabungan yang rutin digelar bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika), melibatkan Camat, Kapolsek, dan Danramil setempat. Patroli bersama ini menyasar titik-titik rawan kebakaran di sekitar wilayah operasional maupun permukiman warga, sekaligus menjadi ruang koordinasi antara perusahaan, aparat pemerintah, dan keamanan dalam mengantisipasi potensi karhutla lebih awal.
Pada Rabu (2/9), patroli gabungan kembali dilakukan dengan melakukan pemantauan di titik-titik rawan serta melakukan pemeriksaan SDM dan infrastruktur seperti Gudang Damkar, embung, menara pantau. Dalam patroli dilakukan pula simulasi pemadaman api yang menunjukkan kesiapsiagaan Satgas perusahaan dalam menghadapi tantangan Karhutla.
Sekretaris Dinas Perkebunan Berau Mansur Tanca, yang turut mengikuti patroli gabungan turut mengapresiasi kesiapsiagaan perusahaan dalam menghadapi risiko kebakaran. Menurutnya ketiga perusahaan telah memiliki infrastruktur maupun SDM yang mumpuni dalam menghadapi risiko Karhutla.
“Telah kita pantau bersama tadi embung, menara api yang kita lihat memang telah sesuai standar dari peraturan pemerintah terkait pencegahan dan penanggulangan bencana Karhutla. Ini perlu diapreasi, dan semoga alat serta personil bisa bekerja dengan baik dalam menanggulangi Karhutla, ungkapnya.
Apresiasi serupa juga disampaikan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Hermansyah. Ia mengucap terima kasih kepada perusahaan yang dalam beberapa waktu terakhir turut membantu pemadaman api di luar area perusahaan.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan patroli ini, dan kontribusi perusahaan dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan khususnya di area (Kecamatan) Kelay. Apalagi sebulan terakhir hotspot di Berau paling tinggi ada di Desa Merapun, Kelay, sehingga apa yang dilakukan perusahaan ini sangat positif untuk Kecamatan Kelay,” ujar Hermansyah.
Ketika Api Menjalar ke Lahan Warga
Manfaat kesiapsiagaan tersebut dirasakan langsung oleh Herman, warga Desa Merapun, Kecamatan Kelay. Lahan miliknya yang berada di luar HGU perusahaan sempat terbakar setelah api dari lahan di sekitarnya menjalar.
Herman kemudian menghubungi PT YWA untuk meminta bantuan. Tak lama kemudian, tim pemadam perusahaan datang ke lokasi dan berhasil dipadamkan dengan bantuan Satgas Karhutla perusahaan.
“Saat itu siang ada api dari area samping yang lompat ke lahan saya, saya langsung menelepon PT YWA untuk meminta bantuan pemadaman. Tak lama mobil Damkar datang datang dan saya dibantu memadamkan api hingga usai aampai menggunakan dua tangki air mobil Damkar,” tutur Herman terpisah.

Kisah Herman menjadi salah satu bukti nyata bahwa infrastruktur dan kesiapsiagaan yang dibangun TAP turut dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar, sekaligus memperkuat kepercayaan warga terhadap kehadiran perusahaan di tengah ancaman karhutla.
Bagi perusahaan, keterlibatan dalam pemadaman di luar konsesi merupakan bagian dari upaya membangun sistem pencegahan karhutla yang melibatkan berbagai pihak. Sebab, kebakaran tidak mengenal batas administrasi maupun batas konsesi, sehingga upaya pencegahan dan penanggulangannya membutuhkan kerja sama antara perusahaan, pemerintah, aparat, dan masyarakat.
Melalui kesiapsiagaan tersebut, TAP tidak hanya berupaya menjaga wilayah operasionalnya, tetapi juga mengambil bagian dalam menjaga lingkungan dan keselamatan masyarakat di sekitar wilayah operasional dari ancaman karhutla. (/tim)
