Belajar dari Maestro, Anak Muda Dumaring Rawat Tradisi dan Hutan Adat
3 mins read

Belajar dari Maestro, Anak Muda Dumaring Rawat Tradisi dan Hutan Adat

KARYAMEDIA, BERAU – Hutan Adat Patiraja, Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, mendadak menjadi ruang belajar bagi puluhan anak muda.

Di tengah rindangnya pepohonan dan hamparan dedaunan kering, mereka berjalan bersama para tetua kampung untuk mengenal lebih dekat warisan budaya, yang selama ini hidup di tengah masyarakat.

Tak ada ruang kelas maupun papan tulis. Proses belajar berlangsung langsung di alam, dengan para maestro adat Dumaring sebagai guru.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Belajar Dari Maestro dalam rangkaian Festival Rindu Dumaring 2026. Program ini dirancang untuk mempertemukan pelestarian budaya dengan upaya konservasi hutan. Sekaligus, memastikan pengetahuan lokal tidak terputus di tengah generasi.

Koordinator Program Kolaborasi Konservasi Mangrove Dumaring, Nandang Mulyana, mengatakan konsep yang diterapkan di Dumaring berbeda dengan pendekatan konservasi pada umumnya.

Jika konservasi selama ini kerap dimulai dengan larangan, masyarakat Dumaring justru didorong untuk mengenal dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijak. Dari pemanfaatan tersebut, masyarakat diharapkan memahami nilai penting hutan hingga akhirnya terdorong untuk menjaganya.

“Ketika masyarakat sudah merasa butuh dan merasakan manfaatnya, secara alami mereka yang akan menjaga hutan itu,” ujar Nandang.

Sekitar 60 anak muda, mulai tingkat sekolah dasar hingga pemuda kampung, mengikuti kegiatan tersebut. Mereka dibagi dalam lima klaster untuk mempelajari berbagai seni dan kearifan lokal, yakni menyumpit, membuat seruling, seni bela diri Bakuntau, meramu obat herbal tradisional, serta menganyam rotan.

Pembelajaran tidak langsung dimulai dengan praktik. Para peserta terlebih dahulu diajak menyusuri Hutan Adat Patiraja bersama para maestro untuk mengenali tanaman sekaligus mengambil bahan baku yang dibutuhkan.

Dari proses tersebut, peserta tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga memahami hubungan erat antara tradisi masyarakat dan kelestarian alam.

Salah satunya dalam seni menyumpit. Anak-anak tidak hanya diajarkan teknik membidik sasaran, tetapi juga pantangan adat yang menjadi bagian dari etika dalam memanfaatkan satwa.

“Ratusan tahun masyarakat Dayak menyumpit, populasi satwa tetap terjaga karena ada etika konservasi berkelanjutan di dalamnya,” jelas Nandang.

Menurutnya, regenerasi menjadi hal penting karena sebagian besar maestro yang menguasai keterampilan tersebut kini telah berusia lanjut.

Tanpa adanya proses pewarisan kepada generasi muda, berbagai pengetahuan dan keterampilan tradisional itu dikhawatirkan hilang dalam beberapa dekade mendatang.

Menariknya, ketertarikan terhadap budaya Dumaring tidak hanya datang dari pemuda etnis Dayak Baloi. Anak-anak muda dari berbagai latar belakang, termasuk etnis Timor, Sulawesi, hingga Jawa yang bermukim di Kampung Dumaring, turut mengikuti proses pembelajaran.

Untuk membantu proses transfer pengetahuan, panitia juga menghadirkan fasilitator budaya. Kehadiran mereka membantu menerjemahkan sekaligus menjembatani cara penyampaian para maestro yang sebagian di antaranya belum terbiasa mengajar generasi muda.

Upaya tersebut juga tidak berhenti setelah Festival Rindu Dumaring 2026 berakhir. Sejumlah wadah pembelajaran permanen mulai disiapkan, di antaranya Perguruan Bakuntau Lilingai Jiwata Dumaring serta sanggar seni yang melibatkan PKK setempat.

Inisiatif yang dirancang Aksenta atau PT Gagas Dinamiga Aksenta dengan dukungan KLK Group itu diharapkan dapat menjadi modal jangka panjang bagi masyarakat Dumaring.

Tidak hanya untuk menjaga identitas budaya, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis pariwisata budaya di masa mendatang.

Bagi Nandang, keterikatan generasi muda dengan akar budayanya menjadi kunci agar warisan leluhur tetap hidup.

“Ilmu itu tidak berat dibawa ke mana-mana, jika ditekuni sampai ahli, ia akan menjadi nilai hidup yang membanggakan,” tandasnya. (Tim/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *